Cerpen Enu
Oleh:Sabinus kantus
Enu adalah panggilan khas untuk gadis Manggarai
Enu sering kali membuatku jatuh pada bayangan rindu
Seusai mentari pamit pada bumi, aku berjalan hampa pada sudut toko tak bertuan. Aku yang ditemani gelap, melangkah tak berarah. Melewati bisikan malam, bahwa pagi tak akan kembali. Aku yang terjebak seorang diri bersandar pada tumpukan kata yang melukiskan tentang rindu yang tak terobati. Malam pun semakin kejam. Angkasa pesta raya mengundang bintang pada rembulan. Aku melihat ribuan bintang menari disaat mentari pergi dalam hati aku bertanya mengapa bulan kini sendiri?? Sedangkan bintang penuhi angkasa ini. Apakah ini tanda bahwa bulan itu adalah dia yang di ruang rindu??
Yaa dia.... (Enu). Walau sendiri tapi mampu mengalahkan ruang gelap para menanti.
Aku yang dihujani cahaya bulan kembali berdiri dan melangkah bahwa aku bangkit dalam luka. Dimana luka ini aku kuburkan dan dibubarkan? Jika pada tanah, batu dan rumput pasti lebih menikmati kepergian sosok luka yang kian lupa.
Batang ragu tak mampu, ranting kering tak mungkin. Pada luka yang bertepi sedikit menggigil melewati ruang takdir pada ujung malam ini. Persimpangan jalan kembali aku jumpa, desakan yang menghauskan aku untuk berhenti di bawah sinar lampu jalan beraroma cahaya rembulan.
Malam itu, bibir mungil berontak memanggilku untuk pulang pada gerbang-gerbang kepulangan sementara. Aku pun termabuk dalam syair yang membias, sedikit deras dan keras.
Pagi kembali datang melantarkan kunang, aku yang terbangun dari mimpi tak berujung mendayung kelopak agar kelak mampu bertanya mengapa tidak diperbolehkan? Semoga saja bukan karena datangnya pagi yang gigil menemui
bumiku. Dengan mengingat bisikan malam bahwa pagi tak akan kembali, membuat aku tersenyum dalam tipuan. Ini hanya tipuan dalam puan yang berparas itu.
Jam dan menit terus berpijak menyebut nama Enu untuk dilagukan dalam denyut yang kian diseruput detak. Kabut mulai lenyap saat mentari lirik sambil menyingsing. Aku yang tersembunyi dibalik bayangan seakan penuh bimbang akan keadaan. Aku terbawa rasa dan ingin mengenal, menjadi kekasih sepanjang hayat yaitu menjumpai sesosok bidadari yang kini hadir diujung ruang.
Dengan percaya akan rasa, aku mendekatinya. (Jujur saja kami sudah mengenal satu sama lain). Harapan terlalu besar, Sebesar otot-otot nyamuk yang tak tahu berujung pupus.
Aku selalu salah dalam jalan yang penuh tanda mungkin karena tak mampu aku membahasakan. Sehingga aku terus berjalan dan sembunyi dibalik bayangan Enu.
Perjalanan yang bersua pada pintu berkunci sore, aku kembali disuguhkan oleh setumpuk pekerjaan yang sangat sulit untuk dilepaskan. Pada layar komputer aku menatap, tanpa sedikit berpindah dan beralih pandangan. Mentari yang kian pergi meninggalkan bayang, membuat pekerjaanku kembali menumpuk. Karena di setiap detik kejadian aku harus merumuskannya ke dalam puisi-puisi ku. Rasanya hampa jika aku tak melukiskan kepergian nama Enu dalam ingatanku. Dalam larik syairku aku lukiskan makna dan rumitnya arti kepergian dan melepaskan. Jemari memeluk pena, menari pada lembaran putih, kadang menari di atas huruf-huruf bertombol yang merumitkan pikiran. Rasa lelah pun datang dalam kesendirian. Kadang rasa lelah itu dalam nadi kerinduan. Aku harus menghadapi tugas yang begitu banyak dan menghadapi rasa sakit akan rindu yang belum terobati. Banyak cara untuk mengobatinya, tapi tak ada satu cara yang ampuh untuk melumpuhkan rindu. Rindu pada pelukan Enu, kata yang dimulai dengan huruf R dan diikuti oleh huruf I, N, D, dan U ini melumpuhkan jejak langkahku untuk merobek bekas luka yang tak berwarna ini. Malam terus berlarut dalam kegelapan aku harus mencari cara untuk bisa bertahan walau kini mentari telah ditelan samudera dan pamit dari tempat pelayarannya.
Kembali aku membuka lemari kecilku, yang menyimpan buku-buku tentang inspirasi dan seribu judul puisi yang telah lama aku sembunyikan di balik keraguanku.
Yah rasa ragu selalu menghantuiku disaat aku mulai memandangnya dari kegelapan yang sungguh jauh dari wajahnya yang kini dihiasi seribu bayang. Apa yang harus aku lakukan agar aku bisa menulis tentang apa yang dia rasakan bayang???(Tanyaku sambil merobek kertas putih yang tertidur di mejaku).
Dering ponsel menghentikan dan mengubah alur pikiranku. Dengan rasa malas aku mengambil ponselku yang seharian kuletakan di kamar tengah. Dan meraih ponselku dan aku dapati namanya di sana. Wahhhh dia mengirim pesan untukku???
Mataku yang tadinya merasa bosan melihat tulisan-tulisanku, kini pijar tanpa sedikit ragu karena aku tahu pesan itu langsung dari nadinya. Dengan rasa penasaran aku langsung membuka pesan itu
selamat malam Ton, boleh kuminta sebait puisi tentang aku?? Jika boleh, aku terima esok di kampus, lantai 3 ruangan A
Tanpa rasa ragu aku langsung mengirim pesan balasan yang bertulis
" Apakah kau yakin, aku bisa menulis puisi yang melukiskan tentang kamu"???
Creng, Pesan balasan darinya kini muncul lagi di layar ponselku.
"Aku yakin kau pasti bisa melukiskan apa yang sedang aku rasakan. Karena aku tahu, rasaku dan rasamu kini sama."
Dengan wajah kegirangan tanpa pucat pacit, aku kembali meletakan ponsel di laci lemariku dan langsung menuliskan syair yang pantas untuk kedatangannya.
Dia: Ton sudah dimana
Aku: Saya masih dalam perjalanan,
Semenit lagi sampai.
Dia: ohh begitu... Hati-hati...
Aku: Oke siap Ris...
Wah, Aku harus bagaimana?? Ini hampir satu menit. Godaan tak waras terpampang pada lubuk dan hampir lapuk
Tidak menunggu lama, aku langsung menemuinya dengan rasa ragu yang lebih dan sangat kejam.
Aku: Selamat pagi Ris... Ini puisinya...
Ris: Juga... Wahh terima kasih Ton
Aku: yahh sama-sama (Sambil meletakan amplop berisikan puisi di tangannya).
Ris: Sekali lagi terima kasih....
sAku: yahhhh sama-sama...Ris aku harus pulang sekarang aku harus menjemput adikku di Sekolah selamat membacanya. Dan Jangan lupa senyummu mewarnai setiap larik puisi itu...
Ris: Siap dan Aku mencintaimu.
Aku: (Rasa gugup kembali menari setelah aku mendengarkan kata itu dan rasa cinta
Atas pelukannya itu membuatku nyaman akan kegugupan itu...)
Terima kasih Ris Aku lebih dari apa yang kau rasakan.
Tanpa menunggu lama, aku langsung menyatakan rasaku padanya... Dan dengan nada hangat dia langsung menerimaku sebagai pelengkap dalam hidupnya...Izinkan aku berkata jujur karena aku tahu apa itu cinta, Izinkan aku untuk berkata Jujur jika cinta menyatukan kita...
Dan kau akan tahu arti ucapan itu.
Dan kau adalah jawaban atas bayang Enu. Dan sekarang aku tak lagi bersembunyi di balik bayanganmu, karena kamu jawaban atas doa dalam mimpiku dan bayangmu menjadi sandaran panjang bagi para pejuang dalam merebut dan merawat nama Enu yang dirindu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar